17 Mei adalah hari memperingati World Hypertension Day (WHD) atau Hari Hipertensi Dunia. Tentu ada sesuatu yang sangat penting hingga dunia memperingatinya secara khusus.

WHO memperkirakan penderita hipertensi meningkat menjadi 1,5 Miliar orang tahun 2025. Dan setiap tahunnya jumlah penderita yang meninggal mencapai 10,44 juta orang pertahun.

Sebagai perbandingan, korban yang meninggal akibat Covid sebanyak 3.42 juta orang dalam setahun terakhir.

Tingginya angka kematian yang disebabkan hipertensi serta komplikasinya membuatnya masuk dalam daftar 10 penyakit paling mematikan di dunia.

Jumlah penyandang hipertensi

Menurut Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematiannya sebesar 427.218 orang.

Data WHO dan Kementerian Kesehatan menunjukkan 1 dari 3 orang terdiagnosis hipertensi. Ketika terdiagnosis, seumur hidup pasien harus rutin menjalani perawatan supaya tidak memicu komplikasi stroke, gagal ginjal dan gagal jantung.

Tanpa keluhan

Hipertensi disebut the silent killer karena penderita tidak menyadari keberadaannya. Sering kali penderita terlambat mengetahuinya setelah terjadi komplikasi.

Organ-organ tubuh yang menjadi target hipertensi antara lain otak, mata, jantung, ginjal, dan pembuluh darah arteri perifer.

Kerusakan organ tergantung peningkatan tekanan darah dan lamanya kondisi tekanan yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati.

Ketidaktahuan yang fatal

The Silent Killer ini menyerang kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%).

Sebagian besar penderita sama sekali tidak mengetahui bahwa mereka mengidap hipertensi, sehingga tidak pernah mencari pertolongan dokter dan mengkonsumsi obat.

Alasan penderita tidak minum obat antara lain:

  • Penderita merasa sehat (59,8%),
  • Kunjungan tidak teratur ke fasyankes (31,3%),
  • Minum obat tradisional (14,5%),
  • Menggunakan terapi lain (12,5%),
  • Lupa minum obat (11,5%),
  • Tidak mampu beli obat (8,1%),
  • Terdapat efek samping obat (4,5%)
  • Obat tidak tersedia di Fasyankes (2%).

Biaya pengobatan

Biaya berobat rutin pasien antara Rp142.516 sampai Rp927.207 per bulan. Biaya ini dirasa mahal apalagi untuk mengobati penyakit yang biasanya diabaikan orang.

Memang biaya perawatan bulanannya cukup mahal, namun lebih mahal lagi biaya jika mengabaikannya. Mengabaikan pengobatan rutin sama saja dengan mengundang komplikasi jantung, ginjal dan stroke.

Biaya pengobatan komplikasi jantung, ginjal dan stroke di Indonesia mencapai 300-600 juta. Apalagi setelah setelah selesai perawatan kita terpaksa pensiun dini karena tidak bisa beraktifitas normal.

Pencegahan dan pengobatan

Sebagian besar penderita hipertensi harus mengonsumsi obat seumur hidup pengatur tekanan darah. Namun, jika tekanan darah sudah terkendali melalui perubahan gaya hidup, penurunan dosis obat atau konsumsinya dapat dihentikan.

Obat-obatan yang umumnya diberikan kepada para penderita hipertensi, antara lain:

  • Obat untuk membuang kelebihan garam dan cairan di tubuh melalui urine. Sebab, hipertensi membuat penderita rentan kadar garam dalam tubuh.
  • Obat untuk melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah bisa menurun. Sebab, hipertensi membuat penderita rentan mengalami sumbatan pembuluh darah.
  • Obat yang bekerja untuk memperlambat detak jantung.
  • Obat penurun tekanan darah yang berfungsi untuk membuat dinding pembuluh darah lebih rileks.
  • Obat penghambat renin untuk menghambat kerja enzim yang berfungsi menaikkan tekanan darah. Jika renin bekerja berlebihan, tekanan darah akan naik tidak terkendali.

Selain konsumsi obat-obatan, pengobatan hipertensi juga bisa dilakukan melalui terapi relaksasi, misalnya meditasi atau terapi yoga.

Pengobatan hipertensi tidak akan berjalan lancar jika tidak disertai dengan perubahan gaya hidup berikut:

  • Mengonsumsi makanan sehat.
  • Batasi asupan garam.
  • Mengurangi konsumsi kafein yang berlebihan.
  • Berhenti merokok.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan.
  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here